UKM PALEMBANG SIAP GO INTERNASIONAL
Pelatihan ini dibuka oleh Sekretaris Daerah Kota Palembang Husni Thamrin itu digelar di Hotel Horison, Jumat (8/7).
Pelatihan ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN Kementerian Luar Negeri yang berkoordinasi dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Kementrian Perdagangan, Pemerintah Kota Palembang, Bank Indonesia, dan Univeristas Sriwijaya.
Pada kesempatan itu hadir pula Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kota Palembang Hatta Wazol, Kasubdit Investasi UKM dan Kerja Sama Antar Kawasan, Direktorat Kerja Sama Ekonomi ASEAN Kemenlu Tri Purnajaya.
Hadir pula konsultan PUMKM Bank Indonesia Palembang Rusli, Kepala Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (B2P2EI) Kementrian Perdagangan Hari Prawoko, dan Kasubdit Amerika dan Eropa, Direktorat Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor Kementerian Perdagangan, Sahala Aritonang.
Husni mengatakan pemerintah menyambut baik dilaksanakannya pelatihan terkait ekspor bagi pengusaha kecil menengah.
“Mereka bisa belajar berkreatifitas, meningkatkan keunggulan kompetitif produk, sekaligus memahami prosedur ekspor,” ujar Husni.
Ia berharap produk-produk yang dihasilkan UKM di Palembang mampu menembus pasar bebas ASEAN. Dengan inovasi, disiplin dan kerja keras ditambah pengetahuan soal seluk beluk perdagangan luar negeri, Husni yakin UKM di Palembang bisa meningkat.
“Sehingga tidak hanya jadi konsumen atau objek dari banjirnya produk impor, tapi jadi pelaku ekonomi, pengekspor.”
Perdagangan bebas ASEAN tentu saja berdampak pada munculnya persaingan antarnegara. Di mana segala produk dari negara-negara Asia Tenggara dengan mudah masuk ke Indonesia dan sebaliknya.
“Karena itu, kami minta para pengusaha jeli melihat peluang dan mempertahankan kualitas produk yang dihasilkan. Pemerintah sendiri akan melindungi pengusaha kecil agar mampu bersaing ditingkat regional maupun internasional,” kata Tri Purnajaya.
Sehari sebelumnya, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kota Palembang Hatta Wazol mengatakan, masih sedikit usaha kecil dan menengah di Palembang yang melakukan ekspor.
“Baru sekitar 10 persen dari 2 ribu pengusaha di sini,” ujar Hatta.
Kondisi ini sangat disayangkan. Karena secara kualitas hasil produksi usaha kecil di Palembang tidak kalah dibandingkan daerah atau negara lain. Hatta menyebut ketiadaan maupun keterbatasan modal merupakan penghambat bagi usaha kecil untuk mengekspor produknya.
“Mereka juga masih sedikit yang menjalankan program kemitraan, sehingga kesulitan dalam pemasaran produk,” kata Hatta.
Staf Ahli Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya Kementerian Luar Negeri, Suprapto Martosetomo mengatakan, Palembang dipilih sebagai tempat pelatihan karena kota ini adalah daerah pertama yang menjadi zona integritas.
“Ini sangat baik bagi wirausaha untuk melakukan bisnis yang efektif dan bebas pungutan liar. Dan menjadi aspek penting untuk menjadikan usaha kecil menengah Palembang untuk menjadi lebih kompetitif di ASEAN,” kata Suprapto.